Sabtu, 14 November 2015

FISIOGRAFI

0 komentar
PENDALAMAN MATERI 1

  1. Apakah yang dimaksud dengan:
         fisiografi
         fisiografi lingkungan,
         geomorfologi
  1. Mengapa fisiografi/geomorfologi dapat digunakan sebagai dasar kajian masalah lingkungan.
  2. Sebutkan 3 konsep dasar geomorfologi yang digunakan untuk menganalisis aspek kebencanaan suatu daerah.
Jelaskan arti penting 4 aspek utama geomorfologi bagi studi ilmu lingkungan.

  1. Pengertian:
a.       Fisiografi
         Fisiografi adalah deskripsi bentuklahan atau medan yang mencakup aspek fisik (abiotik) dari lahan (Zuidam 1979)
         Fisiografi adalah studi mengenai daratan (geomorfologi), atmosfer (meteorologi-klimatologi) dan laut (oseanografi) (Lobeck, 1939)
         Fisiografi adalah deskripsi kenampakan atau gejala alami dan hubungan timbalbaliknya (Monkhouse, 1972)
         Fisiografi adalah uraian atau deskripsi tentang genesis dan evolusi bentuklahan (AGI ,1962)
         Geomorfologi ialah satu bidang kajian sains bumi yang mengkaji interaksi antara proses, faktor dan bentuk di permukaan bumi secara sainstifik (Hjulstrom 1935)

b.      Fisiografi Lingkungan adalah aspek fisik diri kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.

c.       Geomorfologi
        Geomorfologi adalah ilmu pengetahuan yang menguraikan bentuklahan dan proses pembentukannya dan penyelidikan hubungan bentuklahan dan proses tersebut dalam tatanan keruangannya (Zuidam, 1979).
         Geomorfologi adalah studi tentang bentuklahan (Lobeck, 1983)
         Geomorfologi adalah ilmu tentang bentuklahan (Thornbury, 1954)
         Geomorfologi adalah ilmu pengetahuan tentang bentuklahan pada permukaan bumi, baik diatas maupun bawah permukaan air laut, dan menekankan pada asal mula terbentuknya (Genesa) serta perkembangan yang akan datang, dan hubungan dengan lingkungannya (Verstappen, 1983)
         Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yang terjadi karena kekuatan-kekuatan yang bekerja diatas dan didalam bumi ( Katili John, 1959)
         Geomorfologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang bentuklahan, khususnya mengenai sifat, asal pembentukan, proses-proses perkembangan, dan komposisi materialnya ( Cook dan Doornkamp, 1978)

2.      Fisiografi/geomorfologi dapat digunakan sebagai dasar kajian masalah lingkungan karena geomorfologi dapat digunakan untuk melihat kejadian yang terjadi masa lampau dan untuk memprediksi kejadian yang akan terjadi dalam masa depan. Dengan memprediksi apa yang dapat terjadi di suatu tempat, manusia bisa menanggulangi terjadinya bencana dengan pengetahuan berbasis geomorfologi dan biologi lingkungan. Selain itu, fisiografi/geomorfologi juga memiliki potensi terapan dalam upaya pengelolaan lingkungan. Sebagai contoh dengan mengetahui karakteristik bentuklahan (hasil kajian fisiografi/geomorfologi), dapat diketahui potensi bencana suatu daerah seperti bahaya banjir, longsorlahan, dan kekeringan sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan. Hal tersebut terbukti dengan dibutuhkannya data-data geomoforfologi dalam dokumen AMDAL, UKL UPL, dan Studi Evaluasi Lingkungan.

  1. Tiga konsep dasar geomorfologi yang digunakan untuk menganalisis aspek kebencanaan suatu daerah yaitu,
a.       Konsep ketiga: Relief permukaan bumi yang luas karena proses geomorfologi berlangsung pada tingkat yang berbeda. Konsep ini menjelaskan bahwa bencana alam yang terjadi dapat dianalisis melalui tingkat permukaan bumi, misalnya analisis bencana pada dataran rendah seperti banjir, analisis pada dataran tinggi seperti longsor
b.      Konsep keempat: Proses-proses geomorfologi meninggalkan bekas yang nyata  pada bentuklahan,dan Setiap  proses geomorfologi mengembangkan bentuklahan sehingga memiliki Karakteristik tertentu Bentukan-bentukan permukaan bumi mencirikan kondisi permukaan bumi baik secara proses pembentukannya dari dalam dan proses yang membentuk dari luar. Proses yang membentuk dari luar tidak lepas dari tenaga yang memberinya, yaitu dalam hal ini adalah air. Bentukan-bentukan permukaan tersebut dapat digunakan untuk identifikasi kejadian yang telah lama dan sering terjadi. Misalnya dalam bentuklahan tanggul alam merupakan akumulasi pengendapan dengan kondisi topografi yang lebih tinggi dari pada permukaan sekitarnya dari proses fluvial atau sungai yang dahulu pernah mengalami banjir dengan frekuensi yang relatif tinggi. Dengan mengetahui kejadian masa lampau kita dapat memprediksi kejadian di masa depan seperti bencana yang akan terjadi.
c.       Konsep kelima: Keragaman erosional agent seperti air dan angin dapat membentuk urutan bentuklahan dengan tingkat kerawanan bencana yang berbeda pada suatu daerah. Misalnya analisa yang terjadi pada suatu daerah dapat dilakukan melalui bentukan landform oleh erosional agent seperti air yang dapat berupa air permukaan tanah, air bawah tanah, gelombang laut, arus laut, dan curah hujan.

  1. Jelaskan arti penting 4 aspek utama geomorfologi bagi studi ilmu lingkungan.
a.       Geomorfologi Statis (Static Geomorphology), kajian yang menekankan pada bentuklahan aktual. Dalam studi Ilmu Lingkungan aspek ini memiliki arti penting dalam menganalisis rona aktual landform sehingga mampu menjawab jika kemudian terjadi permasalahan atau bencana pada landform tersebut dari aspek geologisnya.
b.      Geomorfologi Dinamis (Dynamic Geomorphology), kajian tentang proses dan perubahan jangka pendek pada bentuklahan. Aspek ini memiliki arti penting dalam menganalisis masalah lingkungan berkaitan dengan perubahan ekologis jangka pendek pada bentuklahan yang dapat menimbulkan pencemaran atau bencana. Misalnya analisis dampak lingkungan pada perubahan penggunaan lahan hutan lindung menjadi hutan produksi.
c.       Geomorfologi Genetik (Genetic Geomorphology), kajian tentang perkembangan jangka panjang bentuklahan. Aspek ini memiliki arti penting dalam menganalisis permasalahan lingkungan berkaitan dengan asal usul landform yang telah terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Misalnya kajian tentang struktur batuan atau sifat permeabilitas tanah menyerap air pada suatu daerah yang mengalami kekeringan.
d.      Geomorfologi Lingkungan (Environmental Geomorphology), kajian yang menekankan pada ekologi bentanglahan, yaitu kaitan antara geomorfologi dengan aspek kajian (disiplin) ilmu lainnya atau hubungan antarparameter penyusun bentuklahan (Verstappen, 1983).


PENDALAMAN MATERI 2

1.      Apakah yang dimaksud dengan
a.       Satuan bentuklahan
b.      Bagaimana karakteristiknya
c.       Manfaat bagi kajian lingkungan
2.      Buatlah uraian satuan bentuklahan asal proses genetik yang berisikan
a.       Karakteristik
b.      Permasalahan yang mungkin terjadi
c.       Potensi sumberdaya alam

Penjelasan
1.      Pengertian
a.       Satuan bentuklahan bagian lebih terperinci dari kenampakan medan/fisik hasil dari proses alami dengan komposisi tertentu yang memiliki karakteristik visual dan fisik yang khas yang membedakan satu dan lainnya. Contoh satuan bentuklahan asal fluvial yaitu dataran aluvial, dataran banjir, rawa belakang, tanggul alam, teras sungai, kipas aluvial, gosong, delta, dataran delta, dan dataran antar bulit.
b.      Bagaimana karakteristiknya
Karakterteristik bentuklahan terdiri dari relief, material penyusun (struktur, batuan, dan tanah), serta proses pembentukannya atau proses geomorfik yang berbeda-beda antara satuan bentuk lahan yang satu dengan yang lainnya.
c.       Dengan mengetahui karakteristik bentuklahan, kita dapat mengetahui sifat alami danri lahan tersebut sehingga dapat diguanakan untuk mengkaji permasalahan dan potensi yang ada dari bentuklahan tersebut. Contohnya adalah dalam kajian bencana, potensi wilayah, kemampuan lahan, dan kesesuaian lahan suatu daerah.


2.      Satuan bentuklahan vukanik
a.       Karakteristik
No
Satuan bentuklahan
Relief
Tipe Batuan dan Struktur
Proses Geomorfik
Ciri-ciri
1
Kepundan
Depresi Vulkanis
Piroklastik dan endapan lava
Erupsi
Bentuk depresi di puncak kerucut atau pada lereng
2
Kerucut gunungapi
Bergunung
Endapan piroklastik dan aliran lava
Endapan piroklastik dan gravitasi
Tubuh gunungapi palig atas dan lereng paling curam
3
Lereng gunungapi
Berbukit
Endapan piroklastik
Endapan piroklastik dan gravitasi
Bagian tubuh gunungapi di bawah kerucut gunugapi

b.      Bencana yang mungkin terjadi adalah bencana letusan gunungapi meliputi awan panas, aliran lahar, aliran lava, aliran piroklastik, serta aliran debu dan gas.
c.       Potensi sumberdaya alam meliputi berupa pasir dan batu hasil letusan, keanekaragaman hayati meliputi flora dan fauna di lereng dan kaki gunung, potensi sumberdaya air, serta potensi objek wisata bagi wisawatan.


PENDALAMAN MATERI 3

1.      Apa yang dimaksud dengan peta geomorfologi
2.      Jelaskan isi peta geomorfologi
3.      Bagaimana prosedur pemetaan geomorfologi
4.      Manfaat peta geomorfologi dalam kajian lingkungan

Penjelasan
1.      Peta geomorfologi adalah peta yang menggambarkan suatu bentuklahan meliputi relief, material penyusun, dan proses geomorfik yang terjadi yang disusun berdasarkan hasil interpretasi penginderaan jauh dan pengamatan/penelitian lapangan yang disajikan dalam bentuk gambar  melalui proses kartografi sehingga karakteristik medan dapat ditunjukkan.

2.      Isi peta geomorfologi meliputi kontur, pola aliran, jaring-jaring jalan dan tempat penting, material penyusun, bentuklahan, aspek morfometri, proses geomorfik, dan morfokronologi.


3.      Prosedur pemetaan geomorfologi meliputi
a.       Intepretasi citra penginderaan jauh/topografi
b.      Pengujian dan pengamatan lapangan
c.       Pengambilan sampel batuan atau tanah
d.      Intepretasi ulang dan analisis laboratorium
e.       Pengolahan data dan penggambaran peta


Text Box: Kompilasi peta fotogrametrik
Intepretasi gambar litologi
Text Box: Peta topografi
Peta geologi
Peta tanah
                        atau
 

















4.      Manfaat peta geomorfologi dalam kajian lingkungan adalah sebagai penyedia data dasar dalam analisis penggunaan lahan, klasifikasi kemampuan dan keseuaian lahan, serta penilaian bahaya dan bencana.


PENDALAMAN MATERI 4

1.      Jelaskan arti penting satuan medan dan satuan lahan.
2.      Bagimana satuan medan dan satuan lahan dibuat
3.      Apakah yang dimaksud dengan karakteristik lahan dan kulitas lahan
4.      Bagaimana peta kemampuan lahan dan peta kesesuaian lahan dibuat.

Penjelasan
1.      Arti penting satuan medan dan satuan lahan.

2.      Satuan lahan dan satuan medan dibuat dengan cara menumpangsusun peta bentuklahan, lereng, batuan, tanah, dan penggunaan lahan. Bila tidak ada data pendukung, bisa dilakukan dengan intepretasi foto udara. Kemudian, hasil tumpang susun tersebut (satuan lahan) diberi nama dengan kode empat digit.

3.      Pengertian
a.       Karakteristik lahan adalah atribut lahan yang dapat diukur/diperkirakan yang dapat digunakan untuk membedakan satuan lahan yang berbeda kesesuaiannya untuk penggunaan dan dapat digunakan untuk mendeskripsi kualitas lahan.
b.      Kualitas lahan adalah atribut lahan yang berfungsi sebagai pembeda dan berpengaruh terhadap kesuaian lahan pada penggunaan tertentu atau spesifik.
4.      Proses pembuatan peta kemampuan lahan dan kesesuaian lahan
a.       Text Box: Peta BentuklahanText Box: Peta BatuanText Box: Peta BatuanText Box: Peta Jenis TanahText Box: Peta KelerenganProses pembuatan peta kemampuan lahan
b.     
 



c.       Proses pembuatan peta kesesuaian lahan


PENDALAMAN MATERI 6 (KE LIMA SAAT KUIS)

1.      Apa kontribusi geomorfologi untuk kajian geologi
2.      Kontribusi geologi untuk kajian geomorfologi
3.      Membedakan struktur lipatan dan dome dari sudut pandang geomorfologi
4.      Mengetahui neo-tektonik dari sudut pandang geomorfologi

Penjelasan:
1.      geomorfologi untuk kajian geologi dalam kegiatan survey geologis tanah serta eksplorasi material permukaan dan minyak. Diantara ilmu-ilmu kebumian, geomorfologi posisinya berada diantara geologi dan pedologi sehingga menjembatani keduanya. Ahli geologi dan pedologi memperoleh banyak keuntungan dari informmasi geomorfologis terutama dalam hal pemetaan tematik yang berkaitan dengan aspek geomorfologis. Miler (dalam verstappen, 1983) mengemukakan 4 kategori peranan geomorfologi dalam penyelidikan geologis yaitu:
a.       Yang berhubungan dengan bentuk-bentuk lahan erosional dan deposisional, di sebut geomorfologi elementer.
b.      Yang berhubungan dengan bukti-bukti geomorfologis yang dapat membantu memecahkam problem geologis, di sebut geomorfologis suplementer
c.       Yang berupa penerapan geomorfologi mengenai informasi perhatian geologis yang  muncul melalui studi geomorfologis, di sebut geomorfologis komplementer.
d.      Berupa penerapan geomorfologi oleh ahli geologi di daerah-daerah yang tidak terdapat singkapan yang dapat dipetakan dan tidak mudah dapat dibedakan dan/atau dilihat kedudukan strukturnya, di sebut geomorfologi independen.
Dalam eksplorasi minyak, banyak ladang minyak ditemukan karena ekspresi topografi yang menarik perhatian. Struktur antiklinal dengan igir-igir dan lembah-lembah yang memusat biasanya merupakan tempat kedudukan ladang minyak. Demikian halnya dengan struktur dome. Suatu metode baru untuk mengetahui struktur geologi pada suatu wilayah dan akumulasi minyak adalah dengan analisa drainase sebagaimana kenampakannya pada foto udara. Lokasi mineral sering berhubungan dengan goemorfologis suatu wilayah. Dalam penyelidikan hubungan antara mineral dengan relief diperlukan adanya pemahaman tentang sejarah geomorfologi suatu wilayah.
Secara rinci, bentuk lahan mencermintan struktur dan litologi geologi, struktur geomorfologis mncerminkan struktur geologi, serta pola dan kepadatan aliran bisa digunakan untuk identifikasi struktur, arah perlapisan batuan, dan identifikasi litologi.

2.      Kontribusi geologi untuk kajian geomorfologi terlihat dalam 10 konsep dasar geomorfologi dimana Struktur geologi merupakan faktor pengontrol yang dominan dalam evolusi bentuk lahan sebagai kajian geomorfologi, dan Interpretasi yang sempurna mengenai landscapes melibatkan beragam faktor geologi dan perubahan iklim selama Pleistosen.

3.      Membedakan struktur lipatan dan dome dari sudut pandang geomorfologi.
a.       Pertama kali yang harus disadari bahwa suatu daerah yang berstruktur lipatan, oleh tenaga eksogen dihancurkan melalui proses denudasional, sehingga permukaan menjadi rata. Oleh karena itu kenanpakan topografi seperti antiklinal dimungkinkan bukan menjadi punggungan topografi, demikian pula sinklinal ditemukan bukan merupakan lembah. Di samping itu, dimungkinkan pula terjadi pembalikan relief (inversion of relief) sebagai akibat dari bekerja ulangnya tenaga endogen. Bentukan khas yang terdapat pada daerah berstruktur lipatan yang berkenaan dengan pembentukan lipatan kulit bumi belum dijumpai pembentukan baru, pada umumnya telah mengalami beberapa siklus geomorfologi, sehingga bentanglahan yang ada banyak yang dijumpai multi siklis. Walaupun di banyak tempat di permukaan bumi ini telah mengalami proses demikian, di daerah yang berstruktur lipat dapat dijumpai beberapa bentukan yang merupakan bentukan khasnya.
b.      Hasil pembalikan relief akan dapat membedakan kubah secara struktur dan kubah secara topografi. Kaitannya dengan keadaan tersebut, maka akan ditemukan struktur positif dengan topografi negatif, struktur positif dengan topografi positif; dan struktur negatif dengan topografi positf. Adapun bentukan-bentukan yang khas pada daerah dengan struktur kubah adalah dalam hal:
                            i.      Pola pengaliran
Pola pengaliran biasanya radial pada kubah muda dengan lembah termasuk lembah konsekuen. Pola pengaliran anular pada kubah usia dewasa. Pola ini memperlihatkan sungai-sungai besar membentuk lingkarann dan anak-anak sungai bermuara tegak lurus dengan sengai induk. Lembah-lembah besar melingkar berupa lembah subsekuen, sedangkan lembah-lembah cabangnya berupa lembah resekuen/ konsekwen. Perlu diketahui pula pola pengaliran yang sempurna seperti di atas hanya terjadi pada daerah dengan struktur kubah yang luas dan pada kubah yang kecil (tidak luas) sungai-sungai tudak akan terbentuk. Berikut ini disajikan mengenai pola pengaliran di daerah dome/kubah yang luas.
                          ii.      Terdapat bentukan Cuesta, Hogback, Messa, Butte, Flat iron.
Messa, butte, dan flat iron ini pada dasarnya adalah suatu bukit sisa yang ada di daerah yang berstruktur kubah. Biasanya bukit sisa ini material batuannya adalah resisten, sehingga dengan meterial yang resisten terhadap erosi membentuk topografi yang menjulang dibandingkan dengan deerah sekelilingnya.

4.      Neo tektonik dari sudut pandang geomorfologi dapat dilihat pada daerah tektogen dan daerah kratogen. Kepulauan Indonesia secara geomorfologi dapat dibagi kurang lebih menjadi daerah kratogen di sebelah barat dan timur, dan sisanya termasuk teritorial dengan tektogen kuat (Sutarjo Sigit, 1962).



PENDALAMAN MATERI 7

1.      Material permukaan adalah hasil dari proses geologi seperti pelapukan dan erosi batuan dasar yang hancur menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dari sedimen. Sedimen seperti tanah liat, lumpur, pasir, kerikil, dan deposito longgar lainnya yang terletak di atas batuan dasar dikelompokkan bersama dalam kategori umum dari bahan surficial. Bahan-bahan bukan tanah, mereka adalah material bumi yang lebih dalam yang terletak di antara zona tanah dan batuan dasar yang mendasari. Tanah umumnya berkembang dengan pelapukan bagian paling atas dari bahan-bahan. Material permukaan biasanya terdapat di satuan bentuklahan fluvial.
2.      Metode untuk mengevaluasi potensi sumberdaya mineral dan batuan adalah dengan metode pendekatan lithologi, ciri-ciri ubahan dan mineralisasinya. Sejumlah batuan dan singkapan batuan diambil untuk dilakukan analisis dasar penentuan potensi sumberdaya mineral dan batuan.
3.      Bahaya (hazard) adalah suatu fenomena fisik, fenomena, atau aktivitas manusia yang berpotensi merusak, yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa atau cidera, kerusakan harta-benda, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007) atau peristiwa kejadian potensial yang merupakan ancaman terhadap kesehatan, keamanan, atau kesejahteraan masyarakat atau fungsi ekonomi masyarakat atau kesatuan organisasi pemerintah yang selalu luas (Lundgreen, 1986).
Bencana menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, Bencana dapat didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban  jiwa  manusia,  kerusakan  lingkungan,   kerugian  harta  benda,  dan  dampak   psikologis.
Resiko Bencana adalah probabilitas timbulnya konsekuensi yang merusak atau kerugian yang sudah diperkirakan (hilangnya nyawa, cederanya orang-orang, terganggunya harta benda, penghidupan dan aktivitas ekonomi, atau rusaknya lingkungan) yang diakibatkan oleh adanya interaksi antara bahaya yang ditimbulkan alam atau diakibatkan manusia serta kondisi yang rentan (ISDR, 2004 dalam MPBI, 2007).
4.      Cara untuk memperhitungakan resiko bencana adalah dengan melakukan pendekatan ekologi dan pendekatan keruangan yang berdasarkan atas analisa ancaman (hazard), kerentanan dan kapasitas sehingga dapat dibuat hubungannya untuk menilai resiko bencana dengan rumus:
RB = HxV/C, dimana
RB: Resiko bencana
H: Hazard (bahaya)
V: Vulnerability (kerentanan)
C: Capasity (kemampuan)






















0 komentar

10 Konsep Geomorfologi Menurut Thornbury

1.      “Proses fisik dan hukum yang terjadi seluruhnya saat ini telah terjadi juga sepanjang waktu geologi, meskipun intensitasnya tidak sama seperti sekarang”. Konsep ini hampir sama dengan prinsip yang dikemukakan oleh James Hutton pada 1785 yaitu prinsip uniformitarianisme. James Hutton mengajarkan “the present is the key to the past”, tetapi dia mengaplikasikan prinsip ini terlalu kaku dan berpendapat bahwa proses geologi yang terjadi dahulu dan sekarang mempunyai intensitas yang sama. Telah terbukti bahwa intensitas kejadian geologi tiap waktu tidak sama, seperti gletser pada Pleistosen lebih besar intensitasnya dibanding sekarang.
2.      “Struktur geologi adalah salah satu pengontrol dominan dalam evolusi pada bentang alam dan tercermin pada daratan tersebut”. Pada suatu waktu W.M Davis mengajarkan bahwa struktur, proses, dan tingkatan adalah faktor pengontrol utama pada bentang alam. Tetapi apa yang diajarkan Davis tentang “tingkatan” cukup diragukan oleh para geomorfologist. Hal yang tidak diragukan adalah tentang proses dan struktur. Istilah struktur tidak hanya mencakup lipatan, kekar, dan uncomfotmity tetapi juga mencakup cara bagaimana material bumi membentuk daratan yang meninggalkan jejak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya seperti sikap batuan, kehadiran kekar, sesar, unsur mineral, dan sebagainya.
3.      “Banyak relief permukaan Bumi karena proses geomorfologi berlangsung pada kecepatan yang berbeda”. Alasan utama gradasi pada permukaan bumi terjadi secara berbeda adalah batuan pada kerak Bumi memiliki ragam litologi dan struktur dan oleh karena itu menyebabkan perbedaan resistensi dalam proses gradasi. Perbedaan pada komposisi dan struktur batuan tercermin tidak hanya pada variasi geomorfologi secara regional tetapi juga pada topografi lokal. Selain litologi dan struktur ada juga faktor lain yang mempengaruhi seperti suhu, kelembaban, ketinggian, mikroklimatik, dan jumlah vegetasi yang menutupi permukaan. Pengaruh-pengaruh ini akan tampak pada intensitas pengendapan, laju penguapan, jumlah embun tanah, dan sebagainya.
4.      “Proses geomorfologi meninggalkan jejak khusus pada bentang alam, dan setiap proses geomorfologi menghasilkan karakter yang terkumpul pada pembentukan muka bumi”. Proses yang dimaksud mencakup proses fisik dan kimia yang terjadi saat modifikasi muka Bumi. Bentang alam mempunyai pembeda yang bergantung pada proses geomorfologi pada saat pembentukannya seperti dataran banjir, kipas aluvial, dan delta yang dibentuk oleh arus. Meskipun sangat tepat bahwa pembentukan bentang alam berasal dari proses geomorfologi yang terpisah, tetapi kita akan menyadari bahwa bentang alam adalah produk dari sekelompok proses.
5.      “Karena agen erosional berbeda pada permukaan Bumi, maka akan menghasilkan urutan yang sesuai dengannya pada bentang alam”. Hampir semua geomorfologist percaya bahwa bentang alam memiliki proses yang teratur dan berurutan, tetapi tidak selalu melewati tahapan muda, dewasa, dan tua. Konsep muda, dewasa, dan tua mungkin cocok pada tingkat dasar tetapi tidak cocok ketika pendekatan canggih dilakukan pada evolusi bentang alam.
6.      “Kompleksitas dari evolusi geomorfologi lebih lazim dibandingkan dengan yang sederhana”. Biasanya kebanyakan detail topografi dibuat dari proses selama siklus erosi, sangat jarang kumpulan bentang alam yang terbentuk dari satu proses geomorfologi. Horberg (1952) mengelompokkan  interpretasi bentang alam dalam 5 kategori utama : sederhana (produk dari satu proses geomorfologi yang utama), campuran (produk dari dua atau lebih proses geomorfologi baik dipermukaan seperti angin dan gletser maupun di bawah permukaan seperti sesar dan larutan air bawah tanah), monosiklik (menghasilkan jejak hanya dari satu siklus erosi, lebih sedikit dibanding multisiklik), multisiklik (menghasilkan jejak lebih dari satu siklus erosi), dan resurrected landscapes. Selain itu ada konsep tambahan yaitupolyclimatic landscapes, yaitu banyak bentang alam yang berkembang dalam kondisi  lebih dari satu kondisi iklim bersamaan dengan variasi kondisi dominan pada proses geomorfologi. Resurrected landscapes adalah bentang alam yang terbentuk selama periode waktu geologi yang lalu, kemudian terkubur di bawah yang ditutupi oleh batuan sedimen atau beku.
7.      “Sedikit topografi Bumi lebih tua daripada Tersier dan kebanyakan tidak ada yang lebih tua daripada Pleistosen”. Ashley (1931) memperkirakan setidaknya 90 persen daratan yang ada sekarang terbentuk pada post-Tersier dan mungkin sekitar 99 persen terbentuk pada post-tengah Miosen. Contohnya seperti pegunungan Himalaya  pertama terlipat pada zaman Kapur dan hampir seluruh topografi seperti sekarang terbentuk pada Pleistosen.
8.      “Interpretasi yang tepat pada bentang alam  masa kini tidak mungkin tanpa apresiasi dari pengaruh perubahan geologi dan iklim selama Pleistosen”. Gletser dan diastropishm adalah kejadian yang signifikan pada Plesitosen yang mempengaruhi bentang alam yang kita jumpai pada masa kini.Diastropishm berperan pada pembentukan bentang alam disekitar batas lempeng laut pasifik. Gletser yang terjadi pada Plesitosen salah satunya berefek pada arus yang terjadi pada sungai Ohio dan Missouri yang kita lihat sekarang. Air lelehan dari zaman es diperkirakan berefek pada permukaan Bumi seluas 10.000.000 m2.
9.      “Apresiasi terhadap perubahan iklim dunia diperlukan untuk memahami secara tepat terhadap ragam penting dari proses geomorfologi yang berbeda”. Ragam iklim dapat mempengaruhi operasi dari proses geomorfologi baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara tidak langsung adalah seperti iklim yang berpengaruh terhadap jumlah, jenis, dan distribusi tumbuhan yang menutupi bentang alam. Pengaruh secara langsung adalah seperti jumlah dan jenis pengendapan, intensitasnya, hubungan antara pengendapan dan penguapan, rentang suhu harian, dan kecepatan dan arah angin.
10.  “Geomorfologi tidak hanya fokus terhadap bentang alam masa kini, tetapi juga masa lalu”. Geomorfologist juga dapat menyusun sejarah tentang suatu bentang alam yakni dengan prinsip uniformitarianisme .

Empat aspek utama dalam analisis dan pemetaan geomorfologi  (Van Zuidam, R. A.,1983) :

1.  Morfologi (relief), meliputi :
a.       Morfografi
aspek geomorfologi yang deskriptif pada suatu area (dataran, perbukitan, pegunungan
dan plateau)
b.      Morfometri
      aspek kuantitatif pada suatu area (kecuraman lereng, ketinggian, pembukaan dan   
      ketidakrataan dataran)

2.  Morfogenesis (asal mula bentuklahan dan perkembangannya dan proses-proses  pembentukan dan sebab terjadinya bentuklahan tersebut), meliputi :
a.       Morfostruktur pasif  
      litologi (jenis batuan dan struktur batuan) yang dihubungkan dengan proses denudasi,
      seperti cuesta, hogback dan dome.
·         Cuesta : punggungan yang profilnya tidak simetri dan kemiringan lerengnya kurang dari 10° dan searah kemiringan batuan.
·         Hogback : sda tapi kemiringannya lebih dari 30°.

b.      Morfostruktur aktif
     dinamika proses endogen yang  didalamnya  termasuk proses vulkanisme, lipatan dan
     sesar tektonik, seperti gunungapi, punggungan antiklin dan gawir sesar.
c.       Morfodinamik
      dinamika proses eksogen yang dihubungkan dengan pengaruh angin, air dan es dan
      material sisa, seperti gumuk, teras sungai, punggungan pantai.

3.  Morfokronologi
     penentuan umur secara relatif dan absolute pada berbagai macam bentuklahan dan proses-
     proses yang berhubungan.

4.  Morfo-arrangement
     pengaturan keruangan dan hubungan antar berbagai jenis bentuklahan dan proses-proses yang
     berhubungan.



Rabu, 23 September 2015

0 komentar


PROFIL SATUAN EKOLOGI DAN SATUAN EKOSISTEM KABUPATEN PEMALANG JAWA TENGAH





Kamis, 05 Maret 2015

Penginderaan Jauh dan Kehutanan

0 komentar
# 3 Manfaat Penginderaan Jauh di Bidang Kehutanan

Di bidang kehutanan, teknologi penginderaan jauh dimanfaatkan mulai dari tahap perencanaan hingga pengawasan. Beberapa kegiatan tersebut antara lain dalam hal pemetaan tutupan lahan, pemantauan deforestasi, inventarisasi hutan, penataan hutan, dan pembukaan wilayah hutan. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan tentang penginderaan jauh, pemanfaatannya juga mengikuti permasalahan yang ada.
Kita ketahui bahwa luas kawasan hutan di Indonesia begitu besar (99,6 juta Ha), sedangkan jumlah pegawai teknis pemantau lapangan seperti PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) dan Polhut (Polisi Hutan) jumlahnya tidak sebanding dengan luas kawasan hutan yang harus dikelolanya. Contohnya saja Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dengan luasan 50.276,2 Ha pada tahun 2013 hanya memiliki tenaga teknis sebanyak (35orang) atau dapat dikatakan bahwa beban kerja tiap orang sebanyak 1.436 Ha. Disisi lain, hutan yang dikelola harus selalu diinvetarisasi dalam kurun waktu tertentu, batas-batas kawasan pun harus jelas, potensi apa saja yang dimiliki kawasa hutan tersebut, dan lain-lain. Berkaitan dengan hal tersebut, hampir semua ahli kehutanan mengakui bahwa penginderaan jauh merupakan sumber data yang efektif di bidang kehutanan. Para ahli kehutanan telah banyak menggunakannya dalam mempersiapkan peta mengenai tipe-tipe hutan. Penginderaan jauh telah lama digunakan dalam bidang kehutanan dan aplikasinya terus berkembang. Salah satu kelebihan penginderaan jauh adalah mampu menyediakan data relatif lengkap dalam waktu singkat dan dapat menjangkau wilayah yang luas. Umumnya penginderaan jauh bidang kehutanan menghasilkan produk akhir berupa peta, misalnya peta penutupan lahan, peta batas kawasan dan peta potensi tegakan. Rencana pembangunan jalan-jalan hutan, pembuatan tata batas, inventarisasi flora dan fauna, dan kegiatan-kegiatan kehutanan lainnya. Memang, untuk pengukuran-pengukuran yang lebih teliti, misalnya mengenai diameter pohon, kelas, bentuk, serta cacat buatan hanya mungkin dilakukan di lapangan. Dengan demikian, penginderaan jauh digunakan untuk melengkapi, memperbaiki, atau mengurangi pekerjaan lapangan.
Dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan untuk kayu, termasuk perencanaan pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan kembali, pengelolaan dan pencacahan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan sumber daya hutan, rekreasi, dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan sangat rentan terhadap bahaya kebakaran maka penggunaan citra inframerah akan sangat membantu dalam penyediaan data dan informasi dalam rangka monitoring perubahan temperatur secara kontinu dengan aspekgeografis yang cukup memadai sehingga implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat.
Berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya air dalam suatu Daerah Aliran Sungai (DAS), manfaat penginderaan jauh di bidang hidrologi antara lain untuk pemantauan daerah aliran sungai dan konservasi sungai, pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai, serta emantauan luas daerah intensitas banjir.
Jika dikaitkan dengan isu lingkungan saat ini yang tertuang dalam dokumen REDD+ terkait perdagangan karbon, terapan penginderaan jauh bidang kehutanan adalah mengenai estimasi karbon suatu tegakan vegetasi dan juga kandungan biomasa hutan seperti Estimasi Karbon Tegakan Acacia Mangium willd Menggunakan Citra Landsat ETM+ 7 dan SPOT -5di BKPH Parung Panjang KPH Bogor dalam menganalisis persebaran kandungan karbon di wilayah Bogor.

#2 Komponen Utama Penginderaan Jauh

0 komentar
#2 Komponen Utama Penginderaan Jauh

Berdasarkan beberapa pendapat ahli yang sudah disampaikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa penginderaan jauh terdiri atas 3 komponen utama yaitu 1) obyek yang diindera, 2) sensor untuk merekam obyek, dan 3) gelombang elektronik yang dipantulkan atau dipancarkan oleh permukaan bumi. Interaksi dari ketika komponen ini menghasilkan data penginderaan jauh yang selanjutnya melalui proses interpretasi dapat diketahui jenis obyek area ataupun fenomena yang ada. Sementara itu, menurut Suryantoro (2013), komponen-komponen dalam konsep dasar penginderaan jauh meliputi 1) Sumber tenaga, 2) Interaksi tenaga dengan atsmofer, 3) Interaksi tenaga dengan kenampakan muka bumi, 4) Perolehan dan intepretasi data, serta 5) Sistem penginderaan jauh ideal.
1.             Sumber Tenaga
Sumber tenaga alamiah maupun sumber tenaga buatan pada sistem penginderaan jauh sangat penting keberadaannya. Tenaga tersebut mengenai objek di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan ke sensor dan tenaga tersebut dapat juga berupa tenaga dari objek yang dipancarkan ke sensor seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Sistem Penginderaan Jauh
Jumlah tenaga yang dapat mencapai permukaan bumi dapat disajikan dalam formula sebagai berikut:
E     = f(w,l,c), dengan keterangan
E     = Tenaga yang mencapai permukaan bumi
w    = Waktu
Jumlah energi yang diterima oleh objek pada saat matahari tegak lurus (siang hari) lebih besar daripada saat posisi miring (sore hari). Makin banyak energi yang diterima objek, makin cerah warna obyek tersebut.
l      = Lokasi
Permukaan bumi yang bertopografi halus dan memiliki warna cerah pada permukaannya lebih banyak memantulkan sinar matahari dibandingkan permukaan yang bertopografi kasar dan berwarna gelap. Sehingga daerah bertopografi halus dan cerah terlihat lebih terang dan jelas.       
c      = Cuaca
Kondisi cuaca pada saat pemotretan mempengaruhi kemampuan sumber tenaga dalam memancarkan dan memantulkan. Misalnya kondisi udara yang berkabut menyebabkan hasil inderaja menjadi tidak begitu jelas atau bahkan tidak terlihat.
Jumlah tenaga yag diterima oleh sensor tergantung jumlah tenaga asal dan tergantung pula pada karakteristik objeknya.
2.             Interaksi tenaga dengan atsmofer
Interaksi tenaga dari objek ke sensor senantiasa melewati media atsmofer sehingga di dalam atsmofer sering terjadi interaksi-interaksi, yaitu hamburan dan serapan. Hamburan merupakan salah satu penyebab utama adanya kabut tipis pada citra, sedangkan serapan atsmofer dapat menyebabkan hilangnya tenaga efektif ke pembentuk atsmofer.

Gambar 2. Interaksi antara tenaga elektromagnetik dengan atsmofer


3.             Interaksi tenaga dengan kenampakan muka bumi
Interaksi antara tenaga dan obyek dapat dilihat dari rona yang dihasilkan oleh foto udara. Tiap-tiap obyek memiliki karakterisitik yang berbeda dalam memantulkan atau memancarkan tenaga ke sensor. Objek yang mempunyai daya pantul tinggi akan terilhat cerah pada citra, sedangkan obyek yang daya pantulnya rendah akan terlihat gelap pada citra. Contoh: Permukaan puncak gunung yang tertutup oleh salju mempunyai daya pantul tinggi yang terlihat lebih cerah, daripada permukaan puncak gunung yang tertutup oleh lahar dingin.
4.             Perolehan dan intepretasi data
Dalam penginderaan jauh, istilah foto diperuntukkna secara eksklusif bagi citra yang dideteksi dan direkam pada film. Istilah umum citra digunakan untuk tiap peragaan piktorial tiap gambar.
Data yang diperoleh dari inderaja ada 2 jenis, yaitu data manual, didapatkan melalui kegiatan interpretasi citra. Guna melakukan interpretasi citra secara manual diperlukan alat bantu bernama stereoskop. Stereoskop dapat digunakan untuk melihat objek dalam bentuk tiga dimensi. Kedua adalah data numerik (digital), diperoleh melalui penggunaan software khusus penginderaan jauh yang diterapkan pada komputer.

5.             Sistem penginderaan jauh ideal
Komponen sistem penginderaan jauh meliputi:
a.       Suatu sumber tenaga seragam
Sumber tenaga ini akan menyajikan tenaga pada seluruh panjang gelombang dengan suatu keluaran tetap, diketahui, kualitas tinggi, serta tidak bergantung pada waktu dan tempat.
b.      Atsmofer yang tidak mengganggu
Atsmofer yang tidak mengubah tenaga dari sumbernya dengan cara apapun, baik tenaga dalam perjalanan ke muka bumi maupun yang datang dari muka bumi.
c.       Serangkaian interaksi yang unik antara tenaga dan benda di muka bumi
Interaksi ini akan membangkitkan pantulan dan atau pancaran sinyal yang berubah-ubah dan unik terhadap setiap jenis dan macam kenampakan di muka bumi yang menjadi perhatian kita.
d.      Sensor sempurna
Alat ini merupakan sebuah sensor yang mempunyai kepekaan tinggi terhadap seluruh panjang gelombang, menghasilkan data spasial rinci dengan kecerahan absolut dari suatu daerah kajian sebagai fungsi panjang gelombang pada seluruh spektrumnya.
e.       Berbagai pengguna data

Pemakaian data yang sama akan menjadi berbagai bentuk informasi yang berbeda bagi penguna dengan latar belakang berbeda.

Penginderaan Jauh-Definisi

0 komentar
#1 Definisi Penginderaan Jauh


ü  Lillesand dan Kiefer (1979) mendefinisikan Penginderaan Jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji.
ü  Lindgren (1985) mendefinisikan penginderaan jauh merupakan variasi teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan dan dipancarkan dari permukaan bumi. Pendapat Lindgren tersebut menunjukkan bahwa penginderaan jauh merupakan teknik karena dalam perolehan data menggunakan teknik dimana data-data tersebut merupakan hasil iteraksi antara tenaga, objek, alat, dan wahana yang membentuk suatu gambar yang dikenal dengan citra dan data citra.
ü  Rees (2001) menyatakan bahwa penginderaan jauh didefinisikan sebagai proses perolehan informasi tentang suatu obyek tanpa adanya kontak fisik secara langsung dengan obyek tersebut.
ü  Penginderaan jauh (remote sensing) yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna (Curran, 1985).
ü  Everett Dan Simonett (1976) menyatakan bahwa penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistimatika tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, ilmu ini harus dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah, perkotaan dan lain sebagainya.
ü  Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas jauh dari objek yang diindera (Colwell, 1984). Foto udara, citra satelit, dan citra radar adalah beberapa bentuk penginderaan jauh.
ü  Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak jauh (Campbell, 1987). Hal ini biasanya berhubungan dengan pengukuran pantulan atau pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu objek.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa penginderaan jauh (remote sensing) merupakan suatu ilmu, teknologi, dan seni dalam memperoleh informasi mengenai suatu sasaran di permukaan bumi melalui media perekam yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik sehingga menghasilkan data dalam bentuk citra atau dengan kata lain penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk mengindera/menganalisis permukaan bumi dari jarak yang jauh dimana perekaman dilakukan di udara atau di angkasa dengan menggunakan alat (sensor) dan wahana.
 

Little Forester Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template